Sharing

[Sharing] Dunia Editing bersama Mba Rina Lubis

“Edit your manuscript until your fingers bleed and you have memorized every last word. Then, when you are certain you are on the verge of insanity…edit one more time!” C.K. Webb

“Writing without revising is the literary equivalent of waltzing gaily out of the house in your underwear.” Patricia Fuller

Pernahkah kalian merasa kesal jika membaca sebuah buku–baik itu fiksi maupun nonfiksi–tetapi isi tulisannya acak-acakkan, banyak typo sana-sini, penuh miss-logika dalam penuturannya? Nah biasanya sebelum tulisan dapat dinikmati oleh semua pembaca ada namanya proses editing yang dapat dilakukan oleh penulis sendiri (self-editing) ataupun oleh seorang editor. Peran editor sendiri sangat sentral untuk mengawal sebuah naskah agar layak terbit dan dibaca oleh khalayak umum.
Nah bagaimana sih dunia editing itu? Kali ini Mba Rina Lubis, editor remaja Diva Press, akan menuturkannya untuk kalian-seperti yang dilansir dari hasil diskusi di grup Inspirasi-Ku (02/12/2013) berikut ini:
Sumber: Google
Sumber: Google
Mba Rina: Oke malam ini ada banyak hal yang bisa kita bareng-bareng obrolin seputar editing.
Saya mulai dari tugas editor itu apa sebenernya. Editor itu seperti bodyguard alis pengawal. Sebuah penerbitan indie atau mayor, pastilah punya yang namanya editor. Sebuah naskah mentah (kita sebut demikian ya kalau masih baru datang dari penulis) perlu dicek lebih lanjut, mulai dari “pondasi” naskah sampai teknik-teknik penulisannya. Keduanya harus baik ketika terbit. Seorang editor harus jeli ketika menghadapi sebuah naskah. Sesuatu yang kemungkinan terlewatkan oleh penulis, seharusnya bisa dilihat oleh editor.

Misal yang kecil, nama tokoh dan karakter, itu harus sinkron, perubahan karakter bisa saja terjadi, tapi harus logis. Logis dalam arti, bisa dipahami oleh pembaca.

Atau yang sifatnya vital, ya logika cerita. Adakah yang dirasakan janggal ketika dibaca oleh editor. Itu harus dibenahi.

Teknik penulisan. Ini memang sifatnya relatif. Ada yang berlaku umum di setiap penerbitan ada yang khusus. DIVA punya cukup banyak aturan dalam selingkung yang bahkan tidak sejalan dengan aturan umum yang ada.

Editor akan menyeleraskan semuanya dalam proses editing. Satu naskah novel kalau ketebalan 200-an, kira-kira bisa diedit 1-2 minggu. Tergantung tingkat kesulitan naskahnya.

Naskah sulit yang seperti apa? Teknik, itu paling mudah terbaca. Entah salah ketik, salah tanda baca, salah nada, dan sebagainya.

Lalu seberapa besar wewenang seorang editor atas sebuah naskah? Relatif sih. Untuk beberapa penulis ternama, perubahan kecil saja harus dikomunikasikan. Mereka ini memang sudah punya gaya tulis yang khas. Kalau diubah editor secara serampangan, akan tidak sempuna naskah itu.

Kamiluddin Azis: Trims Mbak Rina, ada istilah yg pernah sy dengar bahwa sebaik2 editor itu adalah penulis itu sendiri. Itu menurut pendapat Mbak Rina bagaimana ya?

Mba Rina: Ya, bener banget. Lagi-lagi kembali menegaskan bahwa editor hanya “penjaga” bukan si pemilik cerita. Maka dari itu, matangkan ceritanya baru dikirim ke penerbit. Jangan setengah matang atau bener2 mentah. Karya yang baik adalah yang paling minim menggunakan jasa editor. Banyak penulis yang sampai di tahap ini. Kuncinya? Ya selalu menulis, dengan begitu akan terbentuk kedisiplinan secara otomatis.

Kamiluddin Azis: Tapi sy dengar jg adakalanya editor ‘galak’, dalam artian, mungkin atas pertimbangan tertentu, ia memberikan masukan yg sifatnya memaksakan ide pd penulisnya. Atau ada jg yg tanpa kompromi merubah bagian2 tertentu yg fatalnya menurut penulis itu part yg penting. Itu bagaimana ya Mbak?

Mba Rina: Saya rasa setiap editor itu mewakili “taste” penerbitan. Itulah sebabnya sejumlah penulis menganggap editor ada yang “galak”. Barangkali saya salah satunya di antaranya. Pernah lho saya meminta penulis mengubah 100 persen karyanya karena sangat rentan dengan penjiplakan. Itu sangat membahayakan penerbit. Memang harus ada komunikasi antara penulis dan editor.

Panji Pratama: Mau tanya, tahun 2014 nanti Diva “memilih” tulisan fiksi genre apa sih?

Mba Rina: kami punya beberapa konsep novel di tahun 2014, tentunya tidak akan saya bocorkan di sini. Konsep2 itu sistemnya akan kami “lelang” kepada publik untuk dikerjakan selamat rentang waktu tertentu.

Panji Pratama: Kalau dibocorkan kan bisa siap-siap hehe… Diva kan sekarang banyak imprintnya.. khusus fiksi dewasa semacam thriler atau suspense berapa hlmn kira2 minimalnya?

Mba Rina: yang pasti, untuk divisi yang saya tangani (remaja dan young adult) sedang marak novel2 tematik. Yg ditawarkan secara terbuka adalah novel profesi. setelah itu akan ada lagi. Konsepnya sudah saya pegang. Insya Allah minggu depan akan dipublish di blogdivapress.com. Rajin2 aja mampir di blog kami mas

Haqi Zou Fadillah: Mba Rina Lubis Stone bagaimana menjadi self-editor? Soalnya sebagai penulis selalu punya anggapan tulisan kita sudah bagus

Mba Rina: kebiasaan membaca dan menulis buku yang sudah terbit secara perlahan akan membuat seorang penulis paham dengan self editing. Bagaimana cara membuat kalimat yang nyaman dibaca, tidak ambigu, tidak membosankan dan sebagainya

Kamiluddin Azis: siap2 aja… kalau tdk salah ada 2 tema yg kemarin sdh dibuka. Kembali ke Mbak Rina, di awal td Mbak katakan bahwa Diva berbeda dg penerbit lain (dalam hal seleksi dan editing naskah), kalau boleh tahu seberapa berbedanya Mbak… ketat ya Mbak untuk lolos Diva (titipan pertanyaan dr yg sedang ngumpet)

Mba Rina: di DIVA, acc dan editing dilakukan oleh orang yang berbeda. Kenapa naskah bisa ACC di evaluasi, bisa dikatakan itu adalah naskah potensial. Punya nilai jual. Sementara editor melihat dengan scope yang lebih spesifik. Editor adalah orang yang ditugaskan untuk lebih jeli menghadapi sebuah naskah.
Ketat atau tidaknya seleksi itu relatif juga. Di penerbit lain ada yang naskah itu diseleksi oleh penulis ternama yang jelas seleranya tinggi. Kalau dia tidak suka, ya dia punya hak untuk menolak. Ada pula yang naskah diseleksi oleh beberapa orang sekaligus, termasuk meminta pendapat marketing. Seleksi semua naskah reguler DIVA dilakukan oleh masing-masing pemimpin redaksi. Saya pribadi tidak pernah tuntas membaca semua naskah masuk. Ada beberapa bagian yang saya jadikan patokan sebuah naskah layak atau tidak layak terbit.

Kamiluddin Azis: Oh, seperti itu ya Mbak, pantesan. #makinngertideh… nah itu juga, kan katanya editor itu wakil dr pembaca sehingga dia yg bisa jeli melihat kekurangan naskahnya di bagian mana saja, dan lalu memerankan tugasnya untuk memperbaiki itu. Tapi apa cukup seorang editor itu mewakili sekian ribu pembaca yg seleranya juga mungkin berbeda-beda? Ada tidak Mbak 1 novel diediting oleh lebih dr 1 editor?

Mba Rina: editor itu bukan mewakili pembaca, tapi kepentingan penerbit. Saya sebagai bagian dari redaksi, berharap naskah bagus semuanya diterima, tapi di hadapan saya ada marketing. Marketing kepentingannya omzet. Buat apa naskah bagus kalau penjualan tiap bulan hanya 100 eksemplar, sementara naskah yang biasa aja di mata editor bisa laku 1000 eksemplar. Memang pada akhirnya redaksi dan marketing akan selalu mengambil garis tengah, buku bagus yang penjualannya harus bagus. Kita nggak bisa menutup fakta di lapangan kalau tren pasar yang sekarang bukan di karya-karya sastra berat, tapi yang ringan. Itulah sebabnya perbandingan novel sastra dengan remaja yang terbit di DIVA setiap bulannya adalah 3:10.
kalau dalam kondisi normal, 1 naskah biasanya diedit oleh 1 editor. kecuali naskah itu sudah masuk jadwal terbit dan proses editingnya masih panjang. mau tidak mau, ada perbantuan di sini. Tapi kasuistik. Karena masing2 editor punya taste yang berbeda-beda.

Endang Ssn: selamat malam mbak Rina … editor dan penulis itu ga bs dipisahkan. dibalik karya yg “keren” pasti ada editor yang “keren” pula. oh ya, biasanya sebuah novel itu bisa dikasih toleransi sampai berapa lama dlm proses revisi? apa ya ada kemungkinan ktk revisi tetap tdk sesuai dg penerbit akan dikembalikan pd penulisnya?

Mba Rina: saya rasa seharusnya di balik sebuah karya keren ada penulis yang keren. lagi2 editor hanya penjaga, bukan si kreator yang mendominasi karya itu seputar revisi. apa dulu nih yang harus direvisi, banyak atau tidak? sifatnya substansial atau cuma perkara typo yang terlalu banyak? Kami beri waktu seminggu untuk yang sifatnya salah ketik dan lain2. untuk yang sampai berpengaruh pada cerita, bisa lebih, kadang penulisnya bisa aja tiba-tiba ngilang karena pusing sama revisi. Ini sangat tidak bagus. Apakah semua naskah yang direvisi akan sesuai dengan permintaan editor? Itu harapan editor. Tapi terkadang penulis melakukan revisi yang melenceng, bahkan jadinya membuat semakin banyak yang harus direvisi. Jika belum sesuai, naskah akan terus dikembalikan oleh editor ke penulis dan semakin lama naskah itu terbit.

Haqi Zou Fadillah: Ohh iya Mba bagian-bagian editor itu ada apa saja sih? Apakah proofreader itu di bawah naungan editor?

Mba Rina: di masing-masing penerbit, berbeda-beda saya rasa. Di DIVA, proses editing itu hanya 1 lapis. Maka dari itu, setiap editor wajib membaca 1 naskah 2-3 kali. Editing awal, editing kedua, lalu proofreading.

Petra Shandi: halo mbak Rina… maaf baru nyimak. baru pulang kerja. heheh.. saya punya pengalaman rada gak bagus sama editor, sampai2 naskah saya batal diterbitkan. tapi baca pemaparan diatas akhirnya saya paham

Mba Rina: itu sebuah peristiwa yang terjadi di penerbitan mana pun juga. dan penyebabnya banyak. saya tidak akan menyalahkan pihak mana pun, cuma sangat disayangkan jika sudah kontrak dengan penerbit tapi tidak jadi diterbitkan. untuk ditawarkan ke penerbit lain tentunya butuh waktu sekian bulan untuk menunggu hasil evaluasi. jika ditolak lagi, proses yang sama juga harus dilewati lagi.

Petra Shandi: betul, saya sebagai penulis pemula mungkin begitu putus asanya karena begitu revisian yang begitu banyak. dan saya malah kehabisan ide waktu itu hahha… tapi itu pengalaman berharga. jika keberuntungan memihak saya lagi, mungkin akan saya pergunakan sebaik2nya.

Mba Rina: jangan menunggu keberuntungan, tapi terus mencoba aja. Saya membimbing sejumlah alumni#KampusFiksi yang pada dasarnya punya basic menulis bagus, tapi giliran sedikit saya “jegal”, eh berhenti gitu aja. Saya suka dengan penulis yang punya mental kuat. Dunia penerbitan itu persaingannya keras.

Ririen: #kecup ngundang mbak rina. mbak rina kan udah 5x menerima naskah pada akhirnya ditolak. kekurangan naskah saya gimana sih? #penasaran

Mba Rina: maaf saya tidak hapal semua naskah yang pernah saya evaluasi, tapi ada sejumlah poin dalam evaluasi naskah reguler. 1. tema 2. cerita 3. teknik. 4. Unik

Ririen: saya juga lupa judul yang pernah dikirim ke diva. soalnya keseringan ngirim wkwkwk mbak, kapan diva nerima naskah fiksi lagi? kangen kirim ke diva

Mba Rina: untuk redaksi fiksi dewasa sepertinya akan tutup cukup lama. untuk di fiksi remaja dan young adult, dibuka sementara untuk para alumni #KampusFiksi. Atau bisa juga ikutan lowongan proyek menulis yang ada di blogdivapress.com. Seleksinya memang ketat, yang berminat memang banyak banget. Cuma yang bisa mengirimkan sinopsis, outline dan bab 1 yang baguslah yang terpilih. coba aja 
Khusus untuk fiksi memang kami tutup dulu, kasihan banyak penulis yang kelamaan menunggu naskahnya terbit sampai ada yang membatalkan kontrak. Kami mulai menyetok naskah sesuai kebutuhan. Dan tidak benar-benar tertutup karena proyek2 menulis bisa diikuti siapa saja, gratis. Yang kompetitif akan kami ajak kerja sama.

Kamiluddin Azis: Mbak Rina ada yg titip tanya juga via sms, seorang editor itu katanya harus lebih jago apanya dibanding penulis? Maksudnya syarat2 spy jd editor apa aja kali ya? syarat akademis, dll

Mba Rina: editor justru bukan jagoan apa-apa, editing itu perkara teknik. Ketika di awal Penulis punya ide lalu mengolahnya jadi sebuah cerita. Editor cuma bantu sana-sini. Memastikan ketika udah jadi buku, pembaca dahinya nggak berkerut.
Sebagian besar editor DIVA punya disiplin ilmu yang tidak ada hubungannya dengan dunia tata bahasa. Ketika pertama kali diterima sebagai editor, apa yang harus saya pelajari adalah membaca kesalahan ketik. Di komputer kantor sudah ada program proofing, jadi semua typo bisa keliatan dengan mudah. Ketelitian diutamakan. Setelah itu membiasakan diri untuk memperbaiki kalimat-kalimat yang nggak enak dibaca. Di situlah muncul “taste”. Dari setiap hari membaca akan terbentuk sistem filter di dalam otak. Banyak membaca dan menulis juga penting bagi seorang editor. Editor bidang apa aja.

Haqi Zou Fadillah: Mba saya tidak punya basic bahasa, saya kuliah di jurusan akuntansi, tapi sangat tertarik dengan dunia editing ini. Apakah bisa lulusan akuntansi sepertiku melamar menjadi editor dengan hanya bermodalkan suka baca dan nulis?

Mba Rina: saya rasa setiap orang pasti punya basic bahasa, meski tingkatannya berbeda-beda. Setiap hari kita berkomunikasi dengan bahas Indonesia kan? Buku yang kita baca pun juga kebanyakan berbahasa Indonesia. Tidak selalu lulusan fakultas bahasa punya basic editing yang baik. Siapa pun bisa jadi editor asal mau belajar, mau rajin buka kamus, betah membaca naskah setiap hari. Itu sudah memenuhi syarat jadi editor.
Zhaenal Fanani: Pada awal-awal menulis di Diva, saya pernah mendapatkan notes dari Mbak Rina Lubis Stone yang saat itu meng-edit naskah saya. Notes dalam lembaran itu sampai sekarang masih saya simpan. Memang agak pedas. Tapi disitulah saya terlecut. Secara tidak langsung Mbak Rina telah banyak berjasa.

Nining Anggraeni: Assalamualaikum kk Rina. Kalau ngirim naskah ke diva, tulisannya itu di kritik terlebbih dahulu? lalu, dikirim ulang ke penulis?

Mba Rina: bukan kritik sih, tapi sebatas memberikan pertimbangan dengan beberapa aspek tentu saja. kami tidak menutup idealisme penulis, tapi ada kompromi2 yang akan lebih baik jika saling menguntungkan kedua belah pihak.

Utami: Bagaimana cara mengetahui tulisan yang sedang jadi ‘trend’ atau lagi ‘laku’ di pasaran. Baru-baru ini saya ditolak sebuah penerbit, karena katanya tulisan saya tidak sesuai selera pasar.

Mba Rina: satu2nya tolok ukur tren pasar buku adalah toko buku, lihat mana buku yang menjadi bestseller. Kalau novel, yang genrenya apa, ceritanya apa, penulisnya siapa. Kalau kamu ingin jadi penulis buku2 tren, ya ikuti perkembangannya. Kalau mau jadi penulis idealis, saya rasa banyak penerbit yang masih mempertahankan sisi idealisme tanpa cenderung memburu omzet. DIVA adalah tipe yang pertama.

Kamiluddin Azis: Mbak Rina Lubis Stone kalau penulis kan ada tuh semacam penghargaan utk kategori ini itu… kalo editor ada nggak predikatnya apa gt, itung2 reward karena buku yg dia editori best seller gt…
nyambung yg td, maksudnya ada nggak tolok ukur keberhasilan seorang editor dalam menangani buku yg dia editori, misal terjual 100 exp sebulan atau bagaimana … (emang yg minimal kategori lumayan laku brp ratus ya sebulan?)

Mba Rina: beda kali ya mas, penulis itu kan pekerja kreatif, editor itu teknis. energi yang dikeluarkan saat berkarya itu beda porsinya
Buku laris lagi2 tidak selalu dilihat dari bagusnya isi buku itu mas. tapi juga pengawalan di toko buku. Ini urusan marketing. Mereka yang kerja keras supaya buku2 DIVA di toko tidak “dinakali” penerbit tetangga. Penulis yang raji promo serta punya komunitas besar pun berpengaruh pada banyak atau sedikitnya buku yang terjual setiap bulan. Editor tidak sampai berpengaruh begitu besar.
Sebuah buku disebut laris menurut ukuran Agromedia, salah satu distributor yang bekerjasama dengan DIVA, adalah mampu menembus penjualan 500 eks selama 3 bulan berturut2.

Risty: Salam kenal Mbak Rina, setiap naskah yg masuk seleksi apakah dibaca dari awal sampai akhir ato hanya sinopsisnya saja.

Mba Rina: sinopsis itu penting, tapi isi lebih penting. saya sering mendapatkan sinopsis bagus tapi isinya beda jauh. Saya pasti membaca isi setiap kali evaluasi naskah, meskipun hanya di beberapa bagian. Sebulan baca 50-an novel ya lumayan juga tuh 

Haqi Zou Fadillah: ooh iya waktu itu saya mengikuti kelas editing yang diselenggarakan oleh Akademi Berbagi Bogor, katanya ke depan editor akan dibayar sesuai royalty. Karena ada novel yang laku di pasaran, dicetak berkali-kali, tapi editor yang membuat tulisan itu menjadi nyaman dibaca tidak mendapat apa-apa saat buku tersebut laku besar. Apa benar isu tersebut?

Mba Rina: mungkin ada yang memberlakukan sistem itu, tapi kasihan juga editornya kalau gajinya naik turun menyesuaikan royalti. Lagipula royalti itu dihitung 6 bulan sekali. Waduh, mau makan apa coba 

Ali: tanya mbak Rina Lubis Stone, perbedaan antara editor dengan korektor? atau sama saja?
Mba Rina: editor itu mengecek luar dan dalam naskah, korektor lebih spesifik ke pengecekan ejaan tahap akhir aja. Bisa jadi di sebuah penerbitan ada editor dan korektor, bisa jadi cuma ada editor, tapi tidak mungkin cuma ada korektor 

Ahmad Zaki: Mbak Rina Lubis Stone: untuk novel tematik profesi, apakah harus benar-benar based on the true story, aku ada pama nih yang kerja di toko pastry, tapi ga dramatis dan keluar negeri begitu, cuma kerja di Indonesia. Gimana? tak apakah kukirim samplenya? *kedip mata*

Mba Rina: sebenarnya kenapa dibutuhkan sumber riset, itu untuk pendalaman karakter. Yang kami kejar dari serial profesi adalah seluk-beluk si tokoh dalam bidang pekerjaannya. Cerita boleh difiksikan, ditambahi maupun dikurangi. bebas aja. Setting nggak harus luar negeri.

Kamiluddin Azis: Oke Sahabat semua, udha jam 9 lewat nih… hehe.. Sepertinya diskusinya kita sudahi dulu ya. Kalau masih ada pertanyaan mungkin bisa disampaikan langsung ke Mbak Rina Lubis Stone Dan sebelum ditutup, mungkin Mbak Rina mau memberikan semacam kesimpulan atau tips2 buat kita semua agar naskah kita bisa lolos ke penerbit… Monggo Mbak…

Mba Rina: Oke, makasih banyak buat yang udah ikutan sharing editing. Satu pesan saya, menulislah dengan baik, karena penerbit mana pun suka dengan naskah yang sudah matang dari penulis. Perbanyak referensi bacaan, boleh buku apa saja dan editor hanya penjaga naskah bukan penulis kedua. Selamat berkarya, moga2 kita bisa kerja sama di DIVA. Selamat malam 😀

Sumber: Google
Sumber: Google
Iklan

6 thoughts on “[Sharing] Dunia Editing bersama Mba Rina Lubis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s